Batik Ciprat Resapombo Bukti Keterbatasan Tidak Membatasi Kemandirian

Batik Ciprat Resapombo Bukti Keterbatasan Tidak Membatasi Kemandirian

Ibu Rita, salah satu pendamping Kampung Peduli Disabilitas, KSM Harapan Mulia yang ada di desa Resapombo Doko Kab Blitar, menaruh harapan yang cukup besar pada komunitas ini. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia ini merupakan replikasi layanan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat sheltered workshop peduli dari BBRSPDI (Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual) Kartini Temanggung, dan dibawah naungan Dinas Sosial Kab. Blitar

KSM Harapan Mulia ini bergerak memberdayakan kaum disabilitas khususnya penyandang tuna grahita berkegiatan memproduksi Batik Ciprat. Batik khas yang proses pembuatannya cukup unik, sangat bisa dikerjakan mereka yang berkebutuhan khusus. Bahan yang digunakan sama seperti batik pada umumnya. Yang berbeda disini alat yang digunakan bukan canting, melainkan sapu lidi dan kuas yang justru bisa menambah segi artistik pada motif batik ciprat.

Tim Cekstok saat berkunjung ke lokasi kampung peduli disabilitas

Tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra membina kaum penyandang tuna grahita ini. Usia 30 memiliki mental umur 8 tahun. Bisa dibayangkan butuh usaha yang luar biasa untuk bisa menggerakkan mereka dalam satu wadah kegiatan yang butuh keseriusan.

“Bahan batik malam itu kan panas ya, kalo kena sedikit saja, sudah langsung di lempar itu alatnya. Kalo ada orang asing datang malu, diajak foto gak mau, ‘inceng-inceng tok’.” ungkap ibu Rita menggambarkan situasi awal pada saat mengajari kaum disabilitas belajar membatik.

Penyandang disabilitas yang tidak pernah keluar rumah, cendurung kurang bersosialisasi, bergantung pada orang tuanya, bahkan keluarganya pun tidak yakin ada hal yang bisa diberdayakan, secara bertahap ternyata berkembang cukup bagus. Mulai berani bertemu orang baru, bisa mengungkapkan apa yang diinginkan dan membatik, sebuah produk bagus yang bernilai ekonomi cukup tinggi.

Kegiatan membatik anak asuh KSM Harapan Mulia

Itulah yang mendorong Bu Rita dan yang lain untuk bertahan dan melakukan pembinaan kepada sekitar 53 orang penyandang disabilitas dengan usia produktif sebanyak 27 orang.

“Sebetulnya dulu ada 19 orang pendamping di kampung disabilitas ini, tapi seiring berjalannya waktu ‘mrotholi’ satu per satu, tinggal 4 orang.” ungkap ibu Rita.

Bukan tanpa kendala, pada awalnya masyarakat tidak yakin kaum disabilitas ini bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat. KSM Harapan Mulia yang didirikan 11 Desember 2017 tidak ada modal. Bersyukurnya banyak pihak yang melihat hal ini sesuatu yang positif, berawal dari pelatihan yang diselenggarakan dinas sosial, hingga order yang datang dari dinas-dinas. Hasilnya bisa digunakan untuk anak asuh sendiri dan untuk pengembangan.

“Pernah dapat orderan dari kapolres 20 lembar, tapi itupun gagal. Akhirnya kita proses lagi dan akhirnya berhasil.” Kata Ibu Rita

Untuk satu lembar kain batik ukuran 2,30×1,30 meter dihargai Rp 150-200 ribu, tergantung kesulitan motif, dan bahan yang digunakan. Kini batik Ciprat dari Resapombo mendapatkan pesanan dari pengunjung luar kota yang datang ke Blitar.

salah satu motif batik ciprat
salah satu motif batik ciprat

Hari ini anak asuh di KSM Harapan Mulia sedikit demi sedikit dapat mandiri. Memiliki penghasilan kurang lebih 300ribu per bulan, memiliki tabungan, memiliki harapan untuk membeli barang yang diinginkan, menikah dll. Yang terpenting mereka juga memiliki peran mengangkat ekonomi keluarga.

Sementara itu pengasuh juga berupaya hasil yang didapatkan dari penjualan batik ciprat dapat menjadi hak para penyandang disablitas ini. Jangan sampai masyarakat menilai mereka hanya diperalat untuk mendapatkan keuntungan.

Salah satu anak asuh di KSM Harapan Mulia sedang mempersiapkan peralatan membatik
aktivitas membatik anak asuh KSM Harapan Mulia

Inilah yang dinamakan berdaya bukan karena kesempurnaannya.

Aktivitas yang tidak mudah pada dasarnya, tapi beliau dengan tiga orang tim lainnya memiliki keyakinan bahwa kaum disabilitas juga bisa mandiri baik secara sosial maupun finansial, bahkan bisa hidup selayaknya orang-orang normal lainnya.

Leave a Comment